Hola blog, maafkan majikanmu ini yang tak produktif hha. Pada kesempatan
kali ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman pertama saya berlayar.
Bulan Juni lalu saya mendapatkan kesempatan melakukan survey batimetri (untuk
mengetahui kedalaman dasar laut) di Selat Bangka. Kesempatan ini, saya dapatkan
dari dosen pembimbing lapangan saya di salah satu instansi kelautan di Bandung,
beliau adalah Pa Salahuddin. Terima kasih banyak pak, atas segala kebaikan
bapak. Pada pelayaran ini saya ditemani oleh salah satu senior saya, yaitu Teh
Sheila.
Tepatnya pada tanggal 22 Juni 2012, saya terbang pukul 09.00 dari bandara CGK
menuju bandara Depati Amir, Pangkal Pinang-Bangka. Ini pertama kalinya saya
naik pesawat lho, pertama kali juga pergi jauh, serba pertama deh. Waktu yang ditempuh
dari CGK-PGK hanya 55 menit. Dari atas pesawat terlihat Pulau Bangka yang buruk
rupa, karena disana banyak terdapat bekas galian tambang timah. Miris sekali,
ibarat habis manis sepah dibuang. Sesampainya di Pangkal Pinang kami disambut
oleh udara panas yang menyengat.
Dari Pangkal Pinang perjalanan dilanjutkan menuju Sungai Selan,
menggunakan mobil dengan waktu sekitar 1 jam. Kondisi jalannya cukup baik
karena baru diaspal dan sedikit berliku, melewati bukit-bukit. Selama perjalanan
menuju Sungai Selan, kita dapat melihat perkebunan sawit, tambang timah,
beberapa kuburan dan rumah tradisional, sayang saya tidak sempat
mengabadikannya.
Sungai Selan adalah tempat bersandarnya kapal yang akan kami gunakan untuk
survey. Pemilik kapal ini adalah ketua nelayan Sungai Selan, yaitu Pa Kasmir. Rumah
Pa Kasmir berada di perkampungan nelayan, berada di sisi sungai, sedangkan sisi
sungai lainnya adalah hutan mangrove. Setibanya kami di rumah Pa Kasmir, kami
langsung menuju ke belakang rumahnya untuk melihat kapal dan dan bertemu dengan
para kru kapal. Kru kapal yang akan bertugas selama survey adalah Pa Nazwar, Pa
Agam, Bang Omar, Mas Zein, Bang Syukur, Mas Alwin, Saya dan Teh Sheila. Bersama
dua orang ABK, yaitu Bang Sandi dan Bang Peli. Kaptennya adalah Pa Kasmir.
Kapal yang akan kami gunakan adalah kapal INKA MINA 101, kapal bantuan
dari DKP untuk nelayan setempat. Karena kapal ini berukuran lebih besar dari
yang umumnya digunakan oleh nelayan disana, tentunya bahan bakar yang
dibutuhkan juga lebih besar, maka nelayan disana tidak mampu untuk menggunakan
kapal ini karena biaya akomodasi yang tinggi, yaitu untuk sehari melaut
dibutuhkan ± 300 liter solar. Harga 1 liter solar disana adalah Rp 10.000,00.
Jadi nelayan harus memiliki modal sekitar Rp 3.000.000,00 untuk sehari melaut
saja.
Ini adalah halaman belakang dari rumah Pa Kasmir. Sebelum pergi survey
kami menumpang mandi di rumahnya. Kamar mandinya terdapat di luar dan
bangunannya terbuka setengah badan, sedangkan di belakang kamar mandi langsung menghadap
sungai. Saya dan teh Sheila harus mandi menggunakan kain dan sambil jongkok
agar tidak terlihat orang lain. Untuk buang air kecil juga kami harus ekstra
hati-hati karena toiletnya mirip dengan yang ada di film “Slumdog Millionaire” (kebayangkan hha).
Kami pun pergi survey pada pukul 02.00 dini hari karena menunggu air
pasang. Waktu yang dibutuhkan dari rumah Pa Kasmir menuju muara sungai/laut
sekitar 1,5 jam. Pukul 05.00 kami tiba di Perairan Sebagin, untuk pertama
kalinya saya menunaikan solat subuh di kapal. Selesai solat saya disuguhi
indahnya sunrise oleh Allah, Subhanallah indahnya.
Setiap pagi bang Sandi selalu membuatkan kami teh manis, dan menyuguhkan
biskuit untuk mengisi perut. Karena sarapan biasanya baru siap pukul 10.00
pagi. Hari pertama kami survey, disambut dengan cuaca cerah dan gelombang yang
bersahabat. Survey dilakukan dari perairan Bangka menuju perairan Sumatera,
kemudian sebaliknya, dan begitu seterusnya. Di Perairan Bangka kami banyak
menemui penambangan timah dengan cara dihisap, ada yang menggunakan kapal besar maupun kapal kecil.
Selain mengambil data kedalaman kami juga mengambil sample sedimen.
Survey
hari pertama, alhamdulillah berjalan
lancar. Tapi sayang saya melewatkan sunset di hari pertama, karena ketiduran
hha.
Kami membuang jangkar di Pulau Nangka, untuk bermalam disana. Di Pulau
Nangka tidak hanya kapal kami saja yang bermalam disana tetapi juga banyak
kapal nelayan. Ternyata disana juga ada kapal nelayan milik Pa Kapten, coba
tebak nama kapalnya apa? Namanya King of Love hha gaya bener si Pa Kapten.
Solat magrib dan isya saya lakukan di atap kapal, di bawah cahaya bulan. Malam
itu bulan masih sabit dan bintang-bintang sungguh banyak, jarang saya lihat
bintang sebanyak itu. Karena di darat terlalu terang oleh lampu-lampu.
Oleh nelayan kami diberi berbagai macam seafood. Malam itu kami makan malam dengan ikan todak goreng, telur
ikannya renyah lhoo, udang kipas dan yang paling WAH adalah rajungan, slurp.
Walaupun cuma direbus tapi karena fresh, rasanya enak banget manis. Eh ternyata
kata Pa Kapten pantang itu bilang enak disini, nanti perutnya sakit. Kalo enak
bilangnya MANTAAAP!

speechless apalagi bagian MANTAAAAAAAAP hehehe
ReplyDeletewhat an experience u have djik
so lucky u! envy u! yet so proud of u :*
thnx u sist
ReplyDeleteu still have more experience than me
proud of u too
miss u :*
kangen cerita2 dkasur haha
WOW..!! sailing, sounds so adventurer :D
ReplyDeletei've been there in 2009
Bangka is one of gorgeous island..
nice posting isnainiisnaitu..
before i gone to Bangka, i've been read your post about Bangka tebe
ReplyDeleteand Yes Bangka is so gorgeous
thnx u ;)