Saturday, July 7, 2012

My 1st Sailing (part 1)


Hola blog, maafkan majikanmu ini yang tak produktif hha. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi sedikit pengalaman pertama saya berlayar.

Bulan Juni lalu saya mendapatkan kesempatan melakukan survey batimetri (untuk mengetahui kedalaman dasar laut) di Selat Bangka. Kesempatan ini, saya dapatkan dari dosen pembimbing lapangan saya di salah satu instansi kelautan di Bandung, beliau adalah Pa Salahuddin. Terima kasih banyak pak, atas segala kebaikan bapak. Pada pelayaran ini saya ditemani oleh salah satu senior saya, yaitu Teh Sheila.

Tepatnya pada tanggal 22 Juni 2012, saya terbang pukul 09.00 dari bandara CGK menuju bandara Depati Amir, Pangkal Pinang-Bangka. Ini pertama kalinya saya naik pesawat lho, pertama kali juga pergi jauh, serba pertama deh. Waktu yang ditempuh dari CGK-PGK hanya 55 menit. Dari atas pesawat terlihat Pulau Bangka yang buruk rupa, karena disana banyak terdapat bekas galian tambang timah. Miris sekali, ibarat habis manis sepah dibuang. Sesampainya di Pangkal Pinang kami disambut oleh udara panas yang menyengat.

Dari Pangkal Pinang perjalanan dilanjutkan menuju Sungai Selan, menggunakan mobil dengan waktu sekitar 1 jam. Kondisi jalannya cukup baik karena baru diaspal dan sedikit berliku, melewati bukit-bukit. Selama perjalanan menuju Sungai Selan, kita dapat melihat perkebunan sawit, tambang timah, beberapa kuburan dan rumah tradisional, sayang saya tidak sempat mengabadikannya.

Sungai Selan adalah tempat bersandarnya kapal yang akan kami gunakan untuk survey. Pemilik kapal ini adalah ketua nelayan Sungai Selan, yaitu Pa Kasmir. Rumah Pa Kasmir berada di perkampungan nelayan, berada di sisi sungai, sedangkan sisi sungai lainnya adalah hutan mangrove. Setibanya kami di rumah Pa Kasmir, kami langsung menuju ke belakang rumahnya untuk melihat kapal dan dan bertemu dengan para kru kapal. Kru kapal yang akan bertugas selama survey adalah Pa Nazwar, Pa Agam, Bang Omar, Mas Zein, Bang Syukur, Mas Alwin, Saya dan Teh Sheila. Bersama dua orang ABK, yaitu Bang Sandi dan Bang Peli. Kaptennya adalah Pa Kasmir.




Kapal yang akan kami gunakan adalah kapal INKA MINA 101, kapal bantuan dari DKP untuk nelayan setempat. Karena kapal ini berukuran lebih besar dari yang umumnya digunakan oleh nelayan disana, tentunya bahan bakar yang dibutuhkan juga lebih besar, maka nelayan disana tidak mampu untuk menggunakan kapal ini karena biaya akomodasi yang tinggi, yaitu untuk sehari melaut dibutuhkan ± 300 liter solar. Harga 1 liter solar disana adalah Rp 10.000,00. Jadi nelayan harus memiliki modal sekitar Rp 3.000.000,00 untuk sehari melaut saja.



Ini adalah halaman belakang dari rumah Pa Kasmir. Sebelum pergi survey kami menumpang mandi di rumahnya. Kamar mandinya terdapat di luar dan bangunannya terbuka setengah badan, sedangkan di belakang kamar mandi langsung menghadap sungai. Saya dan teh Sheila harus mandi menggunakan kain dan sambil jongkok agar tidak terlihat orang lain. Untuk buang air kecil juga kami harus ekstra hati-hati karena toiletnya mirip dengan yang ada di film “Slumdog Millionaire” (kebayangkan hha).

Kami pun pergi survey pada pukul 02.00 dini hari karena menunggu air pasang. Waktu yang dibutuhkan dari rumah Pa Kasmir menuju muara sungai/laut sekitar 1,5 jam. Pukul 05.00 kami tiba di Perairan Sebagin, untuk pertama kalinya saya menunaikan solat subuh di kapal. Selesai solat saya disuguhi indahnya sunrise oleh Allah, Subhanallah indahnya.




Setiap pagi bang Sandi selalu membuatkan kami teh manis, dan menyuguhkan biskuit untuk mengisi perut. Karena sarapan biasanya baru siap pukul 10.00 pagi. Hari pertama kami survey, disambut dengan cuaca cerah dan gelombang yang bersahabat. Survey dilakukan dari perairan Bangka menuju perairan Sumatera, kemudian sebaliknya, dan begitu seterusnya. Di Perairan Bangka kami banyak menemui penambangan timah dengan cara dihisap, ada yang  menggunakan kapal besar maupun kapal kecil.




Selain mengambil data kedalaman kami juga mengambil sample sedimen. 



Survey hari pertama, alhamdulillah berjalan lancar. Tapi sayang saya melewatkan sunset di hari pertama, karena ketiduran hha. 





Kami membuang jangkar di Pulau Nangka, untuk bermalam disana. Di Pulau Nangka tidak hanya kapal kami saja yang bermalam disana tetapi juga banyak kapal nelayan. Ternyata disana juga ada kapal nelayan milik Pa Kapten, coba tebak nama kapalnya apa? Namanya King of Love hha gaya bener si Pa Kapten.

Solat magrib dan isya saya lakukan di atap kapal, di bawah cahaya bulan. Malam itu bulan masih sabit dan bintang-bintang sungguh banyak, jarang saya lihat bintang sebanyak itu. Karena di darat terlalu terang oleh lampu-lampu.

Oleh nelayan kami diberi berbagai macam seafood. Malam itu kami makan malam dengan ikan todak goreng, telur ikannya renyah lhoo, udang kipas dan yang paling WAH adalah rajungan, slurp. Walaupun cuma direbus tapi karena fresh, rasanya enak banget manis. Eh ternyata kata Pa Kapten pantang itu bilang enak disini, nanti perutnya sakit. Kalo enak bilangnya MANTAAAP!

Oh sungguh nikmatnya hidup di laut.

4 comments:

  1. speechless apalagi bagian MANTAAAAAAAAP hehehe
    what an experience u have djik
    so lucky u! envy u! yet so proud of u :*

    ReplyDelete
  2. thnx u sist
    u still have more experience than me
    proud of u too
    miss u :*
    kangen cerita2 dkasur haha

    ReplyDelete
  3. WOW..!! sailing, sounds so adventurer :D
    i've been there in 2009
    Bangka is one of gorgeous island..

    nice posting isnainiisnaitu..

    ReplyDelete
  4. before i gone to Bangka, i've been read your post about Bangka tebe
    and Yes Bangka is so gorgeous
    thnx u ;)

    ReplyDelete